Tipologi Perdesaan Kabupaten Banyuasin

Analisis Kerentanan Penghidupan Berbasis Lahan Terhadap Perubahan Iklim

1 Pendahuluan

Kabupaten Banyuasin memiliki keragaman lanskap perdesaan yang kompleks, dengan masyarakat yang bergantung pada penghidupan berbasis lahan. Penghidupan berbasis lahan disinyalir semakin rentan terhadap perubahan iklim, tetapi informasi mengenai potensi resiko dan kebutuhan adaptasi masih terbatas. Draft dokumen ini disusun untuk mengisi kekosongan dengan memahami berbagai jenis kerentanan yang mempengaruhi penghidupan berbasis lahan di Kabupaten Banyuasin.

Menggunakan pendekatan analisis klaster berbasis K-means yang dipadukan dengan Principal Component Analysis (PCA), kajian ini mengidentifikasi tipologi perdesaan berdasarkan karakteristik biofisik dan sosial-ekonomi yang homogen. Pengelompokan ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pola kerentanan spesifik dan kebutuhan mitigasi dan adaptasi yang sesuai dengan konteks lokal. Hasil analisis diharapkan dapat mendukung pengembangan strategi adaptasi perubahan iklim yang lebih tepat sasaran untuk masing-masing tipologi di Kabupaten Banyuasin.

Note

Tujuan

  • Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi ‘tipologi’ desa-desa, yang memiliki karakter sosial-ekonomi dan lingkungan yang mirip di Kabupaten Banyuasin, dengan menggunakan pengelompokan K-means pada data yang disederhanakan oleh PCA.

  • Tipologi tersebut kemudian digunakan untuk mendeskripsikan konteks kerentanan penghidupan berbasis lahan akibat perubahan iklim di Kabupaten Banyuasin dan potensi intervensi yang tepat sasaran untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Kondisi Geografis dan Administrasi

Kabupaten Banyuasin adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan ibukota Pangkalan Balai. Secara geografis, Kabupaten Banyuasin terletak pada posisi antara 1,30’ - 4,0’ Lintang Selatan dan 104’ - 105’ Bujur Timur yang terbentang mulai dari bagian tengah Provinsi Sumatera Selatan sampai dengan bagian timur dengan luas wilayah seluruhnya 11.832,99 km2. Letak geografis Kabupaten Banyuasin yang demikian menempatkan Kabupaten Banyuasin pada posisi potensial dan strategis dalam hal perdagangan dan industri, maupun pertumbuhan sektor - sektor pertumbuhan baru.

Secara administratif, Kabupaten Banyuasin terdiri dari 21 kecamatan, 16 kelurahan dan 288 desa. Batas wilayah Kabupaten Banyuasin mengelilingi 2/3 wilayah Kota Palembang, sehingga Banyuasin dapat dikatakan sebagai wilayah penyangga ibu kota Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah ini berbatasan dengan Provinsi Jambi sebelah utara, Kabupaten Muara Enim sebelah selatan, Kabupaten Musi Banyuasin sebelah barat, dan Selat Bangka sebelah timur. Kecamatan terluas yaitu Kecamatan Banyuasin II dengan luas wilayah 3.632,40 km atau sekitar 30,70% dari luas wilayah kabupaten. Sedangkan kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Sumber Marga Telang dengan luas wilayah 174,89 km2 atau sekitar 1,48% dari luas wilayah keseluruhan kabupaten.

Iklim dan Kondisi Lingkungan

Seperti kebanyakan kondisi klimatologi di wilayah Indonesia, wilayah Kabupaten Banyuasin memiliki 2 musim, yaitu musim kemarau dan penghujan dengan suhu rata - rata 26,10’ - 27,40’ Celcius dan kelembaban rata - rata dan kelembaban relatif 69,4% - 85,5% sepanjang tahun. Kondisi iklim Kabupaten Banyuasin secara umum beriklim tropis basah dengan curah hujan rata - rata 2.723 mm/tahun.

Kabupaten Banyuasin memiliki topografi 80% wilayah datar berupa lahan rawa pasang surut dan rawa lebak, sedangkan yang 20% lagi berombak sampai bergelombang berupa lahan kering dengan sebaran ketinggian 0 - 40 meter di atas permukaan laut. Dari sisi hidrologi berdasarkan sifat tata air, wilayah Kabupaten Banyuasin dapat dibedakan menjadi daerah dataran kering dan daerah dataran basah yang sangat dipengaruhi oleh pola aliran sungai.

Demografi

Menurut hasil proyeksi penduduk Indonesia 2020-2050 berdasarkan Sensus Penduduk 2020, populasi Kabupaten Banyuasin pada tahun 2023 mencapai 850 ribu jiwa, terdiri dari 434 ribu jiwa laki-laki dan 416 ribu jiwa perempuan. Pertumbuhan penduduk sejak tahun 2020 tercatat sebesar 1,07 persen, dengan rasio jenis kelamin 104,69.

Kepadatan penduduk provinsi ini mencapai 67,72 jiwa/km2, dengan variasi signifikan antar kecamatan. Kecamatan Talang Kelapa yang berbatasan langsung dengan Kota Palembang memiliki kepadatan tertinggi sebesar 320,90 jiwa/km2, sedangkan Banyuasin II tercatat terendah dengan 7,83 jiwa/km2.

Sektor Pertanian dan Ekonomi

Sektor pertanian tahun 2023 didominasi pertanian karet dengan luas panen karet dengan luas panen 103,9 ribu hektar, kelapa sawit 53,2 ribu hektar, dan kelapa 46,9 ribu hektar. Sedangkan luas panen kopi dan kakao masing - masing hanya 736 hektar dan 37,75 hektar.

Perkembangan ekonomi yang diukur melalui PDRB menunjukkan peningkatan dari 28,6 triliun rupiah pada 2019 menjadi 37,4 triliun rupiah pada 2023, atau naik 30,77 %. Tiga sektor utama penyumbang PDRB tahun 2023 adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan (31,16 %), industri pengolahan (26,82 %), dan perdagangan besar dan eceran (14,92 %).

Tantangan Sosial Ekonomi

Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, laju pertumbuhan mengalami penurunan dari 5,32 % (2022) menjadi 5,06 % (2023). Kabupaten Banyuasin mencatat jumlah penduduk miskin tertinggi keempat di Sumatera Selatan sebesar 85,88 ribu jiwa pada 2023. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Banyuasin tercatat 70,67 dan masih di bawah rata - rata provinsi dengan nilai indeks 73,18.

2 Skema Teknis Pembuatan Tipologi

Diagram alir pengembangan tipologi wilayah berbasis data dan analisis spasial. Alur kerja dimulai dari (1) penyiapan data melalui pemilihan variabel, pengumpulan, dan penanganan data kosong, dilanjutkan dengan (2) pengolahan data untuk memastikan kualitas analisis statistik. Tahapan (3) reduksi dimensi dilakukan menggunakan metode Analisis Komponen Utama (PCA) untuk menyederhanakan kompleksitas data, sementara (4) analisis jarak antar desa menangkap aspek spasial. Kedua hasil ini dikombinasikan dalam (5) analisis klaster untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok wilayah yang memiliki karakteristik serupa. Terakhir, hasil pengelompokan dirangkum dalam (6) tabel ringkasan dan (7) divisualisasikan dalam bentuk peta interaktif untuk memudahkan interpretasi.

Analisis tipologi wilayah dilakukan menggunakan bahasa pemrograman R dengan memanfaatkan library tidyverse untuk pengolahan data, sf untuk analisis spasial, leaflet untuk peta interaktif, serta beberapa library pendukung lainnya. Laman interaktif ini disusun menggunakan Quarto.

3 Daftar Variabel Penyusun Tipologi

Unit analisis terkecil: Desa

4 Intisari Hasil PCA

Intisari Analisis Komponen Utama (PCA)
Tingkat Kepentingan Komponen
Komponen Standar Deviasi Proporsi Variansi Proporsi Kumulatif
PC1 2.8355 0.1411 0.1411
PC2 2.1857 0.0838 0.2249
PC3 1.8287 0.0587 0.2835
PC4 1.6642 0.0486 0.3321
PC5 1.5192 0.0405 0.3726
PC6 1.3886 0.0338 0.4064
PC7 1.3118 0.0302 0.4366
PC8 1.2829 0.0289 0.4655
PC9 1.2366 0.0268 0.4923
PC10 1.2021 0.0254 0.5177
PC11 1.1820 0.0245 0.5422
PC12 1.1290 0.0224 0.5646

PC1: Predominan Gradien Daratan Rendah-Tinggi

Komponen Utama 1 (PC1) menunjukkan gradien daratan tinggi-rendah (elevasi) yang dicerminkan dari variabel-variabel seperti jarak ke kanal dan gambut, rata-rata temperatur, indeks bahaya longsor, serta potensi perubahan temperatur di masa mendatang.

PC2: Predominan Gradien Demografi

Komponen Utama 2 (PC2) menunjukkan gradien aspek demografi yang dicerminkan dari variabel-variabel seperti jumlah penduduk, jumlah penduduk dengan pekerjaan yang bergantung pada sumber daya alam (SDA), derajat kemiskinan, dan jenis mata-pencaharian utama.

PC3: Predominan Gradien Intensitas Penggunaan Lahan

Komponen Utama 3 (PC3) menunjukkan gradien intensitas penggunaan lahan yang dicerminkan dari variabel-variabel seperti jarak ke perkebunan karet, hutan alami, kejadian deforestasi, dan luasan area budidaya.

Hasil analisis komponen utama (PCA) ditampilkan dalam tiga grafik Grafik atas menunjukkan nilai eigen untuk setiap komponen utama, dengan garis merah horizontal menandai nilai eigen = 1, yang merupakan salah satu praktik umum dalam mencari keseimbangan antara penyederhanaan data dan menjaga kekayaan informasi data aslinya. Dari grafik tersebut, teridentifikasi 16 komponen utama pertama yang memiliki nilai eigen lebih besar dari 1, yang kemudian digunakan dalam langkah selanjutnya, analisis klaster.

Panel tengah menampilkan Cumulative Variance Explained (CVE) dan Proportion of Variance Explained (PVE). Ke-16 komponen utama yang dipilih ini secara kumulatif menjelaskan lebih dari 60% variasi dalam dataset, memadai untuk menangkap intisari dari data biofisik dan sosial-ekonomi wilayah yang sudah dikumpulkan. Panel bawah menunjukkan scree plot yang memperlihatkan penurunan kontribusi dari setiap komponen tambahan.

Grafik scree memperlihatkan penurunan proporsi variansi (PVE) dari setiap komponen utama. Titik ‘siku’ dari sebuah grafik scree adalah titik di mana menambahkan penambahan jumlah kluster tidak banyak memberikan tambahan informasi baru. Pola ini mendukung keputusan untuk menggunakan 16 komponen utama, karena setelah PC16, kontribusi tambahan dari komponen-komponen berikutnya relatif kecil.

5 Pengelompokan K-means

Untuk menentukan jumlah klaster optimal dalam analisis tipologi perdesaan di Kabupaten Banyuasin, tiga metode evaluasi digunakan sebagaimana ditampilkan dalam grafik. Penentuan jumlah klaster mempertimbangkan keseimbangan antara kompleksitas (jumlah klaster) dengan keberagaman variasi yang ada pada data, sambil tetap mempertahankan interpretabilitas hasil.

Grafik Elbow Method (A) menunjukkan penurunan total variasi dalam kelompok seiring bertambahnya jumlah kelompok (k). Titik siku (elbow) menandakan penambahan jumlah klaster tidak banyak memberikan tambahan informasi baru. Dalam hal ini, penurunan Total Within Sum of Square semakin landai setelah jumlah klaster melebihi 4.

Grafik Silhouette Method (B) mengukur seberapa baik setiap objek cocok dengan kelompoknya sendiri dibandingkan dengan kelompok lain. Grafik ini memperlihatkan nilai tertinggi pada k=2, namun nilainya relatif stabil (di sekitar 0.3) untuk jumlah klaster yang lebih besar.

Grafik Gap Statistic (C) membandingkan pengelompokan data asli dengan data acak, di mana semakin tinggi nilai gap statistic, semakin baik kualitas pengelompokan yang dihasilkan. Grafik menunjukkan peningkatan yang konsisten.

Note

Berdasarkan pertimbangan ketiga metrik dan kebutuhan untuk menangkap keragaman karakteristik perdesaan di Kabupaten Banyuasin, dipilih 8 klaster sebagai jumlah yang relevan untuk analisis tipologi.

  • Sumbu x, y dan z dari diagram pencar merupakan tiga komponen utama teratas dari hasil PCA.
    • PC1: Predominan Gradien Daratan Rendah-Tinggi
    • PC2: Predominan Gradien Demografi
    • PC3: Predominan Gradien Intensitas Penggunaan Lahan
  • Tiap-titiknya mewakili sebuah desa di Kabupaten Banyuasin
  • Titik yang berwarna sama berarti tergolong dalam tipologi yang sama.
  • Pola sebaran titik memperlihatkan bahwa desa-desa yang berada pada spektrum yang berseberangan (misalnya pada ujung-ujung gradien elevasi) memiliki karakteristik yang sangat berbeda pada dimensi tersebut (desa daratan tinggi (pegunungan) vs desa daratan rendah (pesisir)).
Note

Analisis tipologi Kabupaten Banyuasin dilakukan berdasarkan bagian dari hasil analisis Provinsi Sumatera Selatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 5 klaster tipologi di Kabupaten Banyuasin, yaitu klaster 3, 4, 5, 6, dan 8.

6 Hasil & Interpretasi

6.1 Peta Tipologi

Tipologi Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim Pada Penghidupan Berbasis Lahan di Kabupaten Banyuasin

6.2 Karakteristik Tipologi

Note

Analisis tipologi Kabupaten Banyuasin dilakukan berdasarkan bagian dari hasil analisis Provinsi Sumatera Selatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 5 klaster tipologi di Kabupaten Banyuasin, yaitu klaster 3, 4, 5, 6, dan 8.

Tip

Desa perkebunan karet dan kelapa sawit serta hutan tanaman dengan kepadatan populasi yang rendah.

6.2.1 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

6.2.1.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Terdapat potensi perkebunan karet dan sawit dan hutan tanaman dengan proximitas ke konsesi yang cenderung dekat (14.038,60 m).

  • Terdapat area ekosistem gambut dengan fungsi budidaya (9,85%) lebih luas dibanding EG dengan fungsi lindung (4,64%) Sebagian besar lahan merupakan area budidaya (55,20%) dengan tutupan lahan perkebunan (sawit) sebesar 26,4%

  • Terdapat lahan garapan potensial sebanyak 81,63% dari total wilayah tipologi.

  • Sebagian masyarakat memiliki mata pencaharian yang bergantung pada kondisi alam.


6.2.1.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Masyarakat memiliki kebiasaan membakar ladang kebun untuk proses usaha pertanian selama setahun terakhir

  • Jarak ke gambut jauh (18.489 m) dan kanal cukup dekat (22.053 m) sehingga potensi kebakaran lahan gambut tinggi terutama musim kemarau

  • Persentase hutan alami rendah (4,02%) dan luas deforestasi mencapai 837,73 ha.

  • Jarak terhadap pabrik pemrosesan (26.542,48 m) jauh, mengindikasikan akses pengolahan dan pergudangan yang relative sulit.

  • Tingkat kemiskinan masyarakat cenderung tinggi (16,90%)


6.2.1.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Harga karet dan sawit yang cenderung tinggi berpeluang untuk dilakukan pengembangan secara berkelanjutan


6.2.1.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.

  • Fluktuasi harga komoditas perkebunan

Tip

Desa bertanah gambut yang dekat dengan konsesi hutan tanaman dan desa transmigrasi beraktivitas pertanian padi sawah

6.2.2 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

6.2.2.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Terdapat potensi perkebunan karet dan sawit dan hutan tanaman dengan proximitas ke konsesi yang cenderung dekat.

  • Memiliki area budidaya seluas 16,42%, 33,72% adalah kebun dan 30,75% adalah semak belukar.

  • Terdapat lahan garapan potensial sebanyak 50,14% dari total wilayah tipologi.

  • Terdapat Sebagian area yang teraliri irigasi (22,19%)

  • Sebagian masyarakat memiliki mata pencaharian yang bergantung pada kondisi alam.


6.2.2.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Masyarakat memiliki kebiasaan membakar ladang kebun untuk proses usaha pertanian selama setahun terakhir

  • Jarak ke gambut (10,04 m) dan kanal paling dekat (1.339,01 m) sehingga potensi kebakaran lahan gambut tinggi terutama musim kemarau

  • Persentase hutan alami rendah (10,15%) dan luas deforestasi tinggi mencapai 781,92 ha.

  • Jarak terhadap jalan relative dekat (166,62 m) tapi jauh dari pabrik pemrosesan (40.749,11 m), mengindikasikan produktivitas industry hilir masih rendah.

  • Tingkat kemiskinan masyarakat tinggi (34,56%)

  • Jarak terhadap area terbakar paling rendah, mengindikasikan luasnya area yang rawan terbakar.

  • Terdapat risiko banjir.

  • Curah hujan paling rendah, mengindikasikan sulitnya akses air pada saat kemarau.


6.2.2.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Jumlah KK/penduduk paling tinggi (rata – rata 3.415 jiwa/desa), tapi kepadatan penduduk paling rendah (0,27 jiwa/hektar)


6.2.2.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut

  • Fluktuasi harga komoditas perkebunan

Tip

Desa dataran rendah yang sebagian bertanah gambut dan jarak yang jauh dari konsesi hutan tanaman.

6.2.3 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

6.2.3.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Keberadaan lahan gambut yang menjadi kawasan penyerap karbon dan pengatur tata air jika dikelola dengan baik.

  • Dominasi area perkebunan karet dan kelapa sawit yang dapat mendukung ekonomi masyarakat dan daerah dengan pengelolaan berkelanjutan.


6.2.3.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Risiko kebakaran lahan tinggi, yang sering terjadi pada ekosistem gambut terutama di musim kemarau.

  • Kerentanan tanah gambut terhadap kerusakan, seperti subsiden dan kehilangan fungsi ekosistem akibat pengelolaan tidak ramah gambut.

  • Ketergantungan pada sumber air tadah hujan, menjadikan desa sangat rentan terhadap kekeringan saat musim kering.


6.2.3.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Mengembangkan program mitigasi kebakaran gambut dan konservasi yang terintegrasi dengan kebijakan nasional.

  • Potensi peningkatan sistem manajemen air untuk meningkatkan akses air bersih dan mengurangi ketergantungan pada hujan.


6.2.3.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Kondisi iklim ekstrem seperti kekeringan yang memperburuk risiko kebakaran gambut.

  • Degradasi lahan gambut yang berdampak langsung pada fungsi ekosistem, seperti penyediaan air dan penyimpanan karbon.

  • Minimnya akses ke tambang (75.333 m), membatasi diversifikasi ekonomi untuk mendukung pemulihan pascabencana.

Tip

Desa Perkebunan kelapa sawit dan karet dengan kegiatan pertanian sawah irigasi

6.2.4 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

6.2.4.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Dekat dengan kawasan hutan (33.309,73 m), mendapatkan manfaat jasa lingkungan paling tinggi berupa kualitas udara dan ketersediaan air.

  • Akses ke jaringan irigasi cukup baik, mendukung kegiatan pertanian produktif.


6.2.4.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Kerusakan ekologis akibat deforestasi relative rendah (12 km²), mengakibatkan turunnya kapasitas ekosistem untuk menahan bencana seperti banjir atau longsor.

  • Ketergantungan pada sumber daya hutan dan perkebunan yang rentan terhadap perubahan harga pasar dan dampak lingkungan.


6.2.4.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Restorasi kawasan deforestasi untuk memulihkan ekosistem/jasa lingkungan dan memperkuat perlindungan biofisik desa.


6.2.4.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Degradasi lingkungan akibat deforestasi tinggi, yang dapat meningkatkan potensi bencana ekologis.

  • Perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim, yang memengaruhi produktivitas sawah irigasi dan perkebunan.

  • Krisis air bersih dan dampak lingkungan jika ekosistem hutan di sekitar desa tidak dikelola dengan baik.

Tip

Perkotaan

6.2.5 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

6.2.5.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Mencakup Kota Palembang, ibu kota provinsi, dengan kepadatan penduduk 4.874,87 jiwa/km² (2024), berfungsi sebagai pusat ekonomi dan infrastruktur, pendidikan, dan jasa

  • Pusat perdagangan dan ekonomi jasa regional Memiliki fasilitas pengolahan serta sarana prasarana penunjang yang cenderung lebih lengkap dibandingkan wilayah lainnya

  • Rasio elektrifikasi tinggi (99,93%) menunjukkan kelengkapan infrastruktur


6.2.5.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Rentan terhadap bencana banjir akibat alih fungsi lahan (kurangnya daerah resapan air) dan sistem drainase yang kurang mampu menangani curah hujan

  • Terbatasnya ruang untuk hunian layak dan pemukiman kumuh perkotaan

  • Polusi air di Sungai Musi (serta anak-anak Sungai perkotaan) dan badan air lainnya yang terkontaminasi limbah domestik maupun industri pengolahan


6.2.5.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Pertumbuhan ekonomi non-ekstraktif dapat didorong melalui peningkatan layanan jasa dan perdagangan perkotaan.

  • Pengembangan perkotaan yang compact dapat mengurangi laju alih fungsi lahan di wilayah lain (mengurangi leapfrogging development).


6.2.5.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Peningkatan suhu (dengan rerata saat ini 27,4 C, tertinggi dibanding area lainnya), Urban Heat Island (UHI) terjadi ketika daerah perkotaan seperti Palembang mengalami suhu yang lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan atau pinggiran kota di sekitarnya akibat aktivitas manusia yang terkonsentrasi dan alih fungsi lahan.

  • Ekspansi kota yang tidak terencana (urban sprawl) mendorong penggunaan lahan yang tidak efisien di wilayah pinggiran.

7 Informasi Lanjutan

Statistik Deskriptif

Rata-Rata

Rata-rata adalah angka yang sering kita gunakan untuk mengetahui gambaran umum dari sekelompok data. Misalnya, jika rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban cuma 0,24 km, ini menunjukkan bahwa umumnya daerah tersebut dekat dengan jalan raya.

Modus

Modus (Modulus) adalah nilai mayoritas atau nilai dengan frekuensi tinggi dari sekelompok data. Misalnya, jika modus sumber air untuk mandi/cuci sebagian besar keluarga bernilai 4, ini menunjukkan bahwa hampir semua daerah tersebut untuk keperluan mandi/cuci menggunakan air sumur.

Median

Nilai tengah (median) memberitahu kita adalah suatu nilai yang membagi data dari sekelompok data menjadi dua bagian yang sama banyaknya setelah data tersebut diurutkan dari terendah ke tertinggi.


Catatan

  • Dokumen ini merupakan draft awal yang masih dalam proses pengembangan dan penelaahan. Seluruh informasi, analisis, dan temuan yang disajikan bersifat tentatif dan dapat mengalami perubahan substansial pada versi finalnya. Data dan interpretasi yang terkandung dalam dokumen ini tidak dapat dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan atau kebijakan dalam bentuk apapun.

  • Setiap kesalahan, ketidakakuratan, atau inkonsistensi yang ditemukan dalam dokumen ini akan menjadi subjek revisi pada tahap-tahap berikutnya. Pembaca diharapkan untuk merujuk pada dokumen final yang nantinya telah divalidasi dan dipublikasikan secara resmi untuk keperluan pengutipan atau referensi.